Kutim Rumuskan Paradigma Baru Pendidikan, Fondasi Tiga Pilar Jadi Model Daerah Lain

ADVERTORIAL259 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Kutai Timur (Kutim) mulai menulis bab baru dalam sejarah pendidikannya. Setelah bertahun-tahun fokus pada pembangunan fisik sekolah, pemerintah daerah kini mengarahkan reformasi pendidikan ke tiga pilar utama: infrastruktur yang merata, data yang akurat, dan kebudayaan yang hidup.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menyebut arah baru ini sebagai “pendidikan yang berpijak di bumi sendiri.” Ia menjelaskan, pembangunan tidak lagi diukur dari jumlah gedung yang berdiri, tetapi dari seberapa kuat sekolah terhubung dengan budaya dan realitas masyarakat.

“Sekolah bukan menara gading. Ia harus mencerminkan nilai-nilai masyarakat yang melahirkannya,” ujarnya.

Dari sisi infrastruktur, pemerintah memperluas jangkauan pendidikan dengan mendirikan sekolah filial di wilayah terpencil. Di bidang tata kelola, Kutim menjadi pelopor verifikasi mandiri data pendidikan, memastikan setiap kebijakan berbasis kondisi riil, bukan sekadar angka laporan.

Sementara itu, kebudayaan ditempatkan kembali di jantung pendidikan. Festival literasi, pentas seni pelajar, dan pelatihan guru berbasis kearifan lokal menjadi ruang hidup bagi pelajar mengenali akar identitasnya.

“Pendidikan tanpa budaya akan kehilangan arah, dan budaya tanpa pendidikan akan kehilangan generasi,” kata Mulyono.

Pendekatan tiga pilar ini mulai dipandang sebagai model inovatif yang menggabungkan sains, sistem, dan nilai. Kutim tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun cara berpikir baru tentang pendidikan.

“Kalau data adalah logika, dan infrastruktur adalah fisiknya, maka budaya adalah jiwanya. Pendidikan sejati hanya bisa hidup jika ketiganya berjalan bersama,” tegas Mulyono. (ADV/Diskominfo Kutim/—).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *