Kutim Tinjau Ulang Masa Depan Mantan Atlet, Dispora Dorong Kebijakan Perlindungan

ADVERTORIAL255 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Masa depan mantan atlet kembali menjadi topik pembahasan serius di Kutai Timur (Kutim). Banyak dari mereka pernah mengharumkan nama daerah melalui perjuangan panjang di gelanggang olahraga, namun kini menghadapi ketidakpastian ketika tidak lagi aktif bertanding.

Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim melihat kondisi tersebut bukan sebagai isu teknis semata, melainkan persoalan keadilan sosial yang perlu dijawab melalui kebijakan yang lebih berpihak.

Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, mengatakan bahwa penyusunan Peraturan Daerah (Perda) Keolahragaan yang sedang dirancang merupakan momentum penting untuk memasukkan perlindungan bagi mantan atlet. Ia menilai selama bertahun-tahun perhatian terhadap atlet lebih banyak terfokus pada pembinaan prestasi, sementara mereka yang sudah pensiun tidak lagi mendapat perhatian memadai.

“Mereka itu dulu berjuang untuk daerah, menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pelatihan, dan mengorbankan banyak hal demi Kutim. Tidak adil jika setelah pensiun mereka harus menghadapi hidup tanpa dukungan. Kami ingin memastikan negara hadir dengan kebijakan yang memampukan,” ucapnya.

Basuki menjelaskan bahwa rancangan Perda akan memuat kerangka program pemberdayaan yang lebih berkelanjutan. Mulai dari pelatihan keterampilan baru, akses pendampingan usaha kecil, hingga peluang untuk terlibat sebagai pelatih dalam pembinaan atlet muda. Ia menilai bahwa kesempatan kedua bagi mantan atlet sama pentingnya dengan medali yang pernah mereka persembahkan.

“Kita ingin mereka tetap punya masa depan. Mereka tidak boleh terlepas dari ekosistem olahraga begitu saja. Dunia olahraga harus menjadi rumah yang tetap bisa mereka masuki dalam peran yang baru,” katanya.

Sementara itu, pembinaan atlet usia dini juga menjadi bagian dari rencana besar Dispora Kutim. Basuki menyebut sekolah sebagai ruang paling strategis untuk menjaring talenta baru. Namun pembinaan usia dini harus dibangun dengan dua fondasi sekaligus: sarana yang memadai dan kehadiran mentor yang kompeten.

“Potensi anak-anak kita besar, tapi tidak akan berkembang kalau mereka tidak mendapatkan teladan dari para seniornya. Karena itu keterlibatan mantan atlet sangat penting,” ujarnya.

Bagi Dispora Kutim, perhatian terhadap mantan atlet bukan hanya soal meningkatkan prestasi daerah, tetapi juga memulihkan martabat mereka yang pernah berjuang. Basuki berharap Perda yang sedang disusun ini membuka jalan bagi pendekatan yang lebih manusiawi dalam dunia olahraga.

“Kami ingin ekosistem olahraga Kutim menjadi inklusif, adil, dan menempatkan manusia sebagai inti kebijakan. Jika mantan atlet merasa dihargai, itu adalah kemenangan yang sama berharganya dengan prestasi,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Kutim/—).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *