Kaliorang Ditetapkan Bebas Buang Air Sembarangan, Dinkes Galakkan Sanitasi Berbasis Masyarakat

ADVERTORIAL273 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Penetapan Kaliorang sebagai wilayah bebas buang air sembarangan atau Open Defecation Free (ODF) menandai perubahan penting dalam peta pembangunan sanitasi Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Deklarasi ini bukan sekadar simbol keberhasilan teknis, tetapi manifestasi dari strategi sanitasi yang kini lebih bertumpu pada pendekatan sosial ketimbang pembangunan fisik.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menjelaskan bahwa pencapaian ODF di Kaliorang merupakan hasil konsistensi penerapan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Model ini menempatkan perilaku warga sebagai titik sentral, sebuah pendekatan yang membedakannya dari program sanitasi sebelumnya.

“Jamban bisa dibangun kapan saja, tetapi perubahan perilaku hanya terwujud melalui proses edukasi yang terus-menerus,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan STBM, perangkat desa, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat menjadi agen utama. Mereka mengidentifikasi rumah tanpa fasilitas sanitasi dan mendorong pembangunan jamban sehat secara mandiri. Pendekatan kemandirian ini diyakini dapat menciptakan rasa kepemilikan sehingga fasilitas tidak terbengkalai.

Pemantauan sanitasi dilakukan melalui tenaga kesehatan lingkungan di puskesmas. Setiap bulan mereka melaporkan kondisi kebersihan lingkungan, kepatuhan penggunaan jamban, serta potensi penyebaran penyakit berbasis air. Data yang dikumpulkan menjadi dasar penyusunan peta prioritas intervensi sanitasi di tingkat kabupaten.

Menurut Sumarno, keberhasilan Kaliorang memberi dasar kuat bagi Kutim untuk mencapai target 100 persen ODF pada 2026. Program ini juga diintegrasikan dengan agenda penurunan stunting dan peningkatan kualitas air bersih.

“Sanitasi bukan sektor tunggal, tapi bagian dari pembangunan kesehatan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.

Dalam kerangka kebijakan publik, keberhasilan ODF di Kaliorang menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat mampu menciptakan perubahan struktural.

“Kami berharap transformasi perilaku yang terjadi di Kaliorang dapat direplikasi ke kecamatan lain sebagai model keberhasilan sanitasi berbasis komunitas,” tutupnya. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *