DTPHP: Transformasi Pertanian Kutim Menghadirkan Mekanisasi sebagai Jalan Baru Regenerasi Petani Muda

ADVERTORIAL265 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Modernisasi pertanian di Kutai Timur (Kutim) bukan hanya gerakan teknis, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperbaiki struktur tenaga kerja sektor pangan. Pemerintah menyadari bahwa regenerasi petani tidak dapat dicapai tanpa perubahan mendasar terhadap cara bekerja di sawah, sehingga mekanisasi dipilih sebagai instrumen untuk membuka ruang baru bagi generasi muda.

Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan bahwa pemerintah menempatkan mekanisasi sebagai pilar penting dalam desain kebijakan pertanian daerah.

“Kami ingin generasi baru melihat bahwa pertanian mampu mengikuti perkembangan zaman. Kalau mereka melihat alat-alat modern, maka jarak psikologis antara anak muda dan sawah akan mengecil,” ujarnya.

Dyah menjelaskan bahwa traktor modern, transplanter, dan drone penyemprotan merupakan tiga alat yang dianggap paling strategis dalam memperbaiki rantai produksi. Traktor mempercepat olah tanah, transplanter menghilangkan proses tanam manual yang melelahkan, dan drone meningkatkan efisiensi penyemprotan sekaligus menurunkan risiko kesehatan petani.

“Tiga teknologi ini kami pakai sebagai fondasi untuk membangun pola kerja baru yang lebih adaptif,” katanya.

Selain penyediaan alat, pemerintah juga memetakan kesiapan sumber daya manusia. Kutim menyiapkan pelatihan multilapis, dari operator alsintan, petani muda, hingga siswa SMK yang diarahkan menjadi calon tenaga profesional sektor pertanian. Dyah menilai pelatihan ini penting untuk memastikan bahwa modernisasi tidak hanya berhenti pada alat, tetapi berubah menjadi kebiasaan kerja baru.

“Modernisasi tanpa kompetensi tidak akan berjalan. Maka kami siapkan pendekatan berbasis keterampilan,” lanjutnya.

Pemerintah juga mengaitkan mekanisasi dengan agenda ketahanan pangan jangka panjang. Tanpa masuknya petani muda, kemampuan daerah menjaga produksi berpotensi melemah. Karena itu, transformasi ini ditempatkan sebagai agenda strategis lintas dekade.

“Kalau teknologi mampu membuat pekerjaan tani lebih menarik bagi anak muda, maka masa depan pangan Kutim berada di jalur yang aman,” tutup Dyah. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *