Kalimrepor.com – Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Mulawarman baru-baru ini menjadi sorotan publik. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan pembicara dari militer mendapat perlawanan simbolik dari mahasiswa Fakultas Fisip yang menyanyikan lagu mahasiswa di tengah acara.
Dalam video tersebut, terdengar pernyataan dari pembicara militer yang menantang mahasiswa untuk bernyanyi di bawah podium. Peristiwa ini memicu diskusi di kalangan civitas akademika dan masyarakat terkait relevansi kehadiran militer sebagai pembicara dalam kegiatan akademik.
Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Samarinda, Anhar, menilai bahwa kehadiran TNI di lingkungan kampus bukanlah hal yang bermasalah selama konteksnya jelas.
“Kalau TNI hadir untuk berbicara soal bernegara, bela negara, dan cinta tanah air, menurut saya itu wajar. Justru kampus harus membuka diri, dan pihak TNI pun perlu menyadari bahwa mereka sedang berbicara di lingkungan akademik, bukan di barak,” ujarnya, Rabu (6/8/25).
Ia menjelaskan bahwa baik dunia militer maupun dunia akademik memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa, meskipun jalannya berbeda. TNI melakukannya melalui tugas menjaga teritorial dan keamanan negara, sementara mahasiswa mengembangkan pemikiran kritis, konsep, dan ide-ide kebangsaan di lingkungan kampus.
“Saya melihat ini justru baik, ada perpaduan antara teori yang dibangun di kampus dengan praktik di lapangan yang dijalani oleh TNI. Sama seperti di DPR, kita mengolah teori menjadi kebijakan, tapi juga melakukan kerja lapangan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran TNI dalam forum seperti PKKMB tidak otomatis bermuatan politis. Menurutnya, hampir semua aspek bernegara memiliki unsur politik, termasuk diplomasi dan hubungan antarnegara.
“Yang terpenting adalah niat dan tujuannya. TNI membagikan pengalaman mereka mempertahankan kedaulatan, sementara mahasiswa bisa memberi perspektif akademik. Ini adalah ruang diskusi, bukan adu kepentingan,” tutupnya.