Dekranasda Jadi Poros Ekonomi Kreatif Kutim, Pembinaan Beralih ke Model Ekosistem

ADVERTORIAL279 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Penguatan peran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menjadi salah satu kebijakan baru Disperindag Kutai Timur (Kutim) dalam membangun ekonomi kreatif berbasis budaya. Kebijakan ini menandai pergeseran pendekatan, dari pola pembinaan administratif ke pembinaan berbasis ekosistem yang mencakup produksi, desain, dan pemasaran.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, menjelaskan bahwa perubahan ini dilakukan setelah pemerintah menilai pembinaan rutin selama beberapa tahun terakhir belum cukup menjawab persoalan pemasaran.

“Kami melihat bahwa perajin tidak kekurangan keterampilan teknis. Yang lemah justru bagian hilirnya, yakni bagaimana produk itu dibawa ke pasar dengan identitas yang kuat,” ucapnya.

Ia menyebut bahwa Dekranasda menjadi titik koordinasi baru untuk menghubungkan perajin dengan jaringan pasar dan pihak swasta.

Kebijakan ini memberi perhatian khusus pada penguatan batik sebagai sektor unggulan. Namun pemerintah memilih tidak membatasi jenis pendampingan. Seni patung, kriya serat alam, serta produk berbasis motif lokal juga masuk dalam peta pembinaan.

“Kami ingin peta kreativitas Kutim tidak sempit. Selama membawa nilai budaya, ia bagian dari ekonomi kreatif,” lanjut Nora.

Dalam kerangka kebijakan, Disperindag mulai menyiapkan sistem kurasi desain, standardisasi kualitas, dan pelatihan pemasaran digital. Konsep kurasi dilakukan untuk menjaga kohesi identitas budaya Kutim agar tidak hilang dalam proses komersialisasi. Selain itu, jejaring kemitraan dengan toko ritel dan platform daring sedang disusun agar produk lokal memiliki jalur pemasaran yang lebih stabil.

Dekranasda juga diarahkan menjadi pusat dokumentasi dan riset kecil mengenai motif, teknik, serta ragam karya yang berkembang di masyarakat. Langkah ini dianggap penting karena sebagian besar pengetahuan budaya masih tersimpan dalam ingatan para perajin senior.

“Kami ingin pengetahuan itu tidak tenggelam. Dokumentasi adalah bagian dari keberlanjutan,” ujarnya.

Dengan model baru ini, pemerintah berharap sektor kreatif Kutim bisa naik kelas dan lebih berdaya tahan menghadapi pasar modern.

“Ekonomi kreatif akan kuat jika bertumpu pada budaya dan memiliki struktur pasar yang jelas. Itulah yang ingin kami bangun,” tutup Nora. (ADV/Diskominfo Kutim/—).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *