Disdikbud Kutim Siapkan Pendidikan Inklusif Penuhi Hak Anak Berkebutuhan Khusus

ADVERTORIAL282 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Ketika banyak daerah masih berjuang menyediakan layanan khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), Kabupaten Kutai Timur (Kutim) justru melangkah lebih jauh dengan memastikan setiap sekolah reguler memiliki guru inklusi. Kebijakan ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan bahwa masih banyak keluarga dengan anak disabilitas kesulitan mengakses SLB karena jarak dan keterbatasan daya tampung.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, mengatakan program pendidikan inklusif dirancang agar tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena perbedaan kemampuan.

“Kami ingin sekolah menjadi tempat yang ramah bagi semua anak, bukan hanya mereka yang berkembang secara tipikal,” ujarnya.

Hingga kini, 121 guru telah menyelesaikan pendidikan inklusi, sementara 300 lainnya sedang menjalani kuliah formal di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pemerintah menilai pendekatan berbasis kuliah ini penting untuk memberi dasar psikologis, pedagogis, dan metodologis yang kuat.

“Empati saja tidak cukup. Guru harus memahami kebutuhan dan karakter perkembangan anak,” kata Mulyono.

Program pendidikan inklusif Kutim juga menjadi jawaban atas meningkatnya laporan ABK yang belum terlayani di kecamatan-kecamatan jauh dari kota. Dengan menempatkan guru inklusi di sekolah terdekat, pemerintah ingin agar orang tua tidak lagi harus mengirim anak puluhan kilometer hanya untuk mendapat layanan pendidikan yang layak.

Selain menyiapkan guru, pemerintah membangun ekosistem pendukung. Sekolah-sekolah mulai dilatih menyusun modifikasi kurikulum, menyediakan ruang tenang bagi siswa autisme, hingga menyusun sistem asesmen yang lebih fleksibel. Komunitas orang tua ABK pun mulai dirangkul sebagai mitra sekolah.

“Kami target seluruh sekolah siap menjadi sekolah inklusif penuh pada 2026. Dan ini bukan proyek, tetapi perjalanan moral kita untuk memastikan setiap anak merasa diterima,” ucap Mulyono.

Ia berharap pendidikan inklusif mendorong masyarakat melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan beban.

“Anak-anak belajar tentang empati sejak dini. Itu modal sosial terbesar yang bisa kita wariskan,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *