Kutim Catat Sejarah Baru, Musim Tanam Padi Tiga Kali Setahun Mulai Terwujud

ADVERTORIAL281 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat tonggak baru dalam sektor pertanian dengan berhasil mendorong pelaksanaan tanam padi tiga kali setahun di sejumlah wilayah. Capaian ini merupakan hasil kombinasi kebijakan modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), penguatan kapasitas petani, serta pengaturan air yang lebih tertata.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyampaikan bahwa perubahan pola tanam ini menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah untuk memperbaiki produktivitas pangan.

“Untuk pertama kalinya, petani kita bisa panen tiga kali dalam setahun. Ini bukan capaian kecil,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa akselerasi produktivitas terjadi karena proses olah tanah yang lebih efisien. Traktor dan combine harvester memungkinkan petani mengurangi waktu persiapan tanam dari hitungan hari menjadi hitungan jam.

“Biasanya olah lahan itu 3 sampai 4 hari. Tapi dengan alsintan modern, hanya 3 sampai 4 jam. Ini yang memotong waktu tunggu antar-musim,” jelasnya.

Dyah menambahkan bahwa penggunaan drone penyemprotan yang diperoleh melalui dukungan Bank Indonesia juga mempercepat penanganan hama dan pemupukan.

“Drone bisa menyemprot satu hektare hanya dalam sepuluh menit. Efisiensi ini membuat petani bisa segera masuk ke fase perawatan tanpa menunggu tenaga tambahan,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan tiga kali tanam tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan air. Karena itu, pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan irigasi berjalan.

“Modernisasi alat sudah terbukti. Tantangan berikutnya adalah memastikan air tersedia. Itu sebabnya kami terus berkoordinasi agar jaringan irigasi diperkuat,” tuturnya.

Pemerintah menargetkan pola tanam ini bisa diperluas ke wilayah lain seperti Kombeng dan Long Mesangat. “Kalau dua komponen ini berjalan, alsintan dan air, peningkatan produksi padi akan terus naik. Kita mungkin belum swasembada, tetapi jarak kebutuhan dan produksi bisa kita kejar,” tutup Dyah. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *