Camat Karangan Optimistis, Kakao Tetap Menjadi Penggerak Ekonomi Utama di Wilayahnya

ADVERTORIAL286 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Kecamatan Karangan menjadi salah satu kantong ekonomi rakyat yang masih bertahan melalui komoditas kakao. Camat Karangan, Madnuh, menilai bahwa posisi kakao sebagai penggerak ekonomi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh rantai nilai yang melibatkan petani, pembeli, dan pembinaan pemerintah daerah.

Produksi kakao di dua desa, Karangan Ilir dan Mukti Lestari, stabil pada angka 90 ton per bulan dengan total lahan sekitar 100 hektare. Biji kakao Karangan dikenal berkualitas baik sehingga menjadi incaran pembeli luar daerah seperti Sulawesi Selatan. Dengan harga pasar Rp24.000 per kilogram, nilai ekonominya mencapai lebih dari Rp2 miliar per bulan.

“Produktivitas ini menunjukkan potensi besar yang tidak boleh diabaikan,” ujar Madnuh.

Namun, keberlanjutan kakao tidak bisa dilepaskan dari analisis struktural tentang pembinaan pemerintah daerah. Madnuh menyebut bahwa petani masih membutuhkan dukungan teknis dan intervensi kebijakan agar kakao tidak tersisih oleh komoditas lain, terutama sawit.

“Kalau tidak ada pendampingan, kakao bisa kalah bersaing dalam jangka panjang,” katanya.

Ia menekankan bahwa sistem produksi kakao rakyat selama ini bertumpu pada ketahanan petani, bukan pada intervensi besar-besaran pemerintah. Karena itu, peran OPD teknis dalam menjaga standar mutu, akses pasar, hingga pemberdayaan kelompok tani menjadi faktor penentu masa depan kakao di Karangan.

Dalam pandangannya, kakao tidak hanya komoditas ekonomis, tetapi juga bagian dari struktur ekonomi desa. Jika diberi perhatian yang proporsional, kakao dapat menjadi pilar diversifikasi ekonomi Kutai Timur.

“Ini peluang besar jika pemerintah melihatnya sebagai investasi jangka panjang,” tutup Madnuh. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *