Kaltimreport.com – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat program edukasi dan pelayanan Keluarga Berencana (KB) sebagai bagian dari upaya membangun keluarga berkualitas sekaligus mendukung pencegahan stunting.
Kepala DP2KB Kukar, Maman Setiawan, mengatakan program KB tidak hanya berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk merencanakan kehidupan keluarga dengan baik.
“Salah satu tujuan program KB adalah mendukung upaya pencegahan stunting. Namun, untuk penanganan stunting secara langsung bukan berada di DP2KB, melainkan menjadi kewenangan Dinas Kesehatan,” ujarnya, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, DP2KB memiliki peran dalam memastikan tersedianya data keluarga yang berisiko stunting. Data tersebut dihimpun melalui Sistem Informasi Keluarga (SIGA) dan menjadi salah satu dasar dalam melihat berbagai faktor risiko yang terdapat dalam keluarga.
“Data yang kami miliki berkaitan dengan keluarga yang memiliki faktor risiko, misalnya kondisi sanitasi serta bagaimana pemenuhan gizi di dalam keluarga,” jelasnya.
Selain pelayanan KB, DP2KB Kukar juga menjalankan berbagai kegiatan edukasi dan konsultasi. Salah satunya melalui program Toko Kencana yang dilaksanakan setiap bulan bersamaan dengan kegiatan Car Free Day (CFD).
Program tersebut menyasar generasi muda dan pasangan yang baru menikah. Melalui kegiatan itu, masyarakat dapat memperoleh informasi sekaligus berkonsultasi mengenai perencanaan keluarga, sehingga keputusan dalam membangun keluarga dapat dilakukan dengan lebih matang.
Maman menyebut, indikator lain yang menjadi perhatian dalam program KB adalah Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total. Saat ini, TFR Kukar berada di angka 2,18, sedangkan target yang ingin dicapai sebesar 2,13.
“Artinya, rata-rata satu pasangan memiliki sekitar dua anak, meskipun dalam praktiknya tentu ada pasangan yang memiliki tiga anak atau lebih,” katanya.
Ia berharap angka tersebut dapat terus diarahkan sesuai target melalui penguatan edukasi dan berbagai program perencanaan keluarga. Dengan perencanaan yang baik, kebutuhan keluarga serta tumbuh kembang anak diharapkan dapat dipersiapkan secara lebih optimal.
Terkait data khusus stunting, Maman menegaskan bahwa penanganannya berada pada sektor kesehatan. Sementara DP2KB berkontribusi melalui penyediaan data keluarga yang memiliki faktor risiko stunting sebagai bagian dari upaya pencegahan.
“Untuk data khusus stunting, kewenangannya berada di Dinas Kesehatan. Sementara itu, DP2KB menyediakan data keluarga yang berisiko stunting,” tuturnya.
Ia menambahkan, faktor risiko tersebut dapat berkaitan dengan berbagai kondisi dalam keluarga, seperti sanitasi, pemenuhan gizi, maupun lingkungan tempat tinggal. Untuk mengetahui wilayah dengan risiko stunting paling tinggi di Kukar secara lebih rinci, Maman menyarankan agar data tersebut dikonfirmasi kepada pihak yang menangani data teknis terkait stunting. (ADV)















