Pendampingan Teknis Perajin Batik Ungkap Rekomendasi Bahan Nyaman di Iklim Tropis

ADVERTORIAL265 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Upaya meningkatkan kualitas batik lokal di Kutai Timur (Kutim) kembali diperkuat melalui pendampingan teknis dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Pendampingan ini tidak menyentuh aspek bisnis perajin, tetapi lebih kepada rekomendasi teknis agar produk batik Kutim semakin nyaman dipakai dan memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah beriklim panas.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, menyebut bahwa pengadaan bahan baku sepenuhnya berada di tangan pelaku usaha. Pemerintah, kata dia, tidak melakukan intervensi karena mekanismenya bergerak dalam sistem bisnis antarperajin dengan pemasok.

“Untuk bahan baku, kami tidak masuk ke urusan pembelian. Itu sepenuhnya business to business, sehingga perajin bebas menentukan pemasok dan harga sesuai kemampuan mereka,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah tetap memberikan saran teknis yang berkaitan dengan kebutuhan pasar lokal. Nora mencontohkan bahwa penggunaan bahan yang terlalu tebal atau panas cenderung membuat konsumen kurang nyaman, mengingat Kutim memiliki suhu rata-rata yang tinggi.

“Kami hanya mengingatkan bahwa bahan yang ringan dan tidak panas lebih sesuai untuk daerah tropis. Saran ini berdasarkan hasil evaluasi terhadap respons konsumen belakangan ini,” katanya.

Ia menjelaskan, banyak perajin yang mulai melakukan penyesuaian setelah pendampingan diberikan. Sebagian bahkan mengganti jenis kain untuk seri tertentu agar lebih mudah dipasarkan.

“Kami tidak ingin mengubah cara kerja mereka, hanya ingin mereka melihat dari sudut pandang pasar. Jika produknya nyaman, nilai jualnya pasti ikut naik,” ujarnya.

Pendekatan Disperindag bersifat kolaboratif. Pemerintah tidak membuat aturan yang membatasi kreativitas dan keputusan usaha perajin. Menurut Nora, peran pemerintah adalah mendorong peningkatan mutu dan memberikan arahan teknis bila dibutuhkan.

“Pendampingan ini tidak mengekang. Keputusan akhir tetap sepenuhnya kewenangan mereka karena industri batik di Kutim adalah usaha swasta murni,” jelasnya.

Disperindag berharap langkah tersebut mampu memperluas penetrasi batik Kutim, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga di luar daerah. Perajin diharapkan lebih adaptif terhadap kondisi iklim, preferensi konsumen, dan tren mode yang terus berubah.

“Kami ingin batik Kutim makin dikenal sebagai produk yang nyaman dipakai dan punya ciri khas sendiri,” tutup Nora. (ADV/Diskominfo Kutim/–).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *