Dispar Kutim Ungkap Potensi Film Lokal Sebagai Penanda Arah Baru Ekonomi Kreatif Kutim

ADVERTORIAL316 Dilihat

KALTIMREPORT.COM, SANGATTA — Lonjakan aktivitas film dan videografi di Kutai Timur (Kutim) mulai dibaca sebagai gejala awal perubahan struktur ekonomi kreatif daerah. Dalam tiga tahun terakhir, karya sineas muda dari Kutim tidak hanya bertambah jumlahnya, tetapi juga menembus kurasi festival nasional. Fenomena ini menunjukkan munculnya basis kreatif baru yang potensial, meski infrastrukturnya masih jauh dari memadai.

Dinas Pariwisata Kutim menemukan mayoritas produksi film dilakukan dengan modal pribadi komunitas. Keterbatasan kamera, perangkat audio, hingga ruang editing tidak menghambat generasi muda memproduksi karya dengan kualitas yang dinilai kompetitif. Karena itu pemerintah memasukkan subsektor film ke dalam daftar lima prioritas ekraf unggulan.

Namun perkembangan subsektor ini menyingkap lapisan persoalan struktural yang selama ini kurang diperhatikan, terutama minimnya ekosistem pendukung seperti ruang pemutaran, akses pendanaan, dan pelatihan teknis.

Ahmad Rifanie, Kabid Ekraf Dispar Kutim, mengatakan kebutuhan terhadap kebijakan yang lebih komprehensif sudah tidak bisa ditunda.

“Kalau dilihat secara jangka panjang, subsektor film tidak cukup hanya didorong oleh semangat komunitas. Diperlukan struktur pendukung yang jelas, mulai dari pelatihan yang terstandar, ruang berkarya, hingga jaminan keberlanjutan program agar mereka bisa berkembang secara profesional,” ujarnya.

Pemerintah sedang menggodok rancangan intervensi ekosistem berupa pelatihan sinematografi, skenario, dan editing, serta penyediaan ruang pemutaran film yang dapat digunakan secara berkala. Selain itu, subsektor film akan diposisikan sebagai bagian dari strategi komunikasi pariwisata.

Dalam konteks ekonomi kreatif, film memiliki daya tarik karena menciptakan rantai nilai yang panjang, mulai dari produksi konten hingga distribusi. Kutim memandang subsektor ini sebagai peluang strategis untuk membentuk identitas ekonomi baru yang berbasis kreativitas lokal.

“Kami memproyeksikan subsektor ini mampu membuka ceruk pasar baru yang menampung tenaga muda kreatif, sekaligus memperluas representasi cerita tentang Kutai Timur,” demikian Rifanie. (ADV/Diskominfo Kutim/—)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *