477 TPK Bergerak Dampingi Keluarga Berisiko Stunting di Kukar

Kaltimreport.com – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus diperkuat melalui pendampingan keluarga dan kolaborasi lintas sektor. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan keluarga yang memiliki faktor risiko mendapatkan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan.
Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Kartanegara, Sri Lindawati, mengatakan keluarga berisiko stunting tersebar di berbagai wilayah. Namun, sejumlah kawasan seperti pesisir dan sekitar bantaran sungai menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Keluarga berisiko stunting ini menyebar di berbagai wilayah. Namun, daerah yang agak rawan memang berada di kawasan pesisir,” ujarnya, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, penentuan keluarga berisiko stunting tidak hanya dilihat dari kondisi ibu hamil maupun usia ibu. Sejumlah faktor lingkungan dan kondisi keluarga juga menjadi bagian yang diperhatikan, seperti ketersediaan air bersih dan jamban keluarga yang memenuhi syarat.
“Kalau akses air bersih dan jamban keluarga yang memenuhi syarat belum terpenuhi, keluarga tersebut sudah masuk dalam kategori keluarga berisiko,” jelasnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, DPPKB Kukar terus membangun kemitraan dengan fasilitas pelayanan kesehatan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK). Saat ini, terdapat 477 tim dengan jumlah 1.431 kader TPK yang terlibat dalam pendampingan keluarga.
Setiap tim TPK terdiri dari unsur tenaga kesehatan, kader KB, dan kader PKK. Komposisi tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam memastikan pendampingan dilakukan secara terpadu sesuai kebutuhan keluarga.
“Dengan adanya tenaga kesehatan, pola integrasi kita dengan Dinas Kesehatan juga semakin kuat. Kami terus membangun kemitraan dalam melakukan pendampingan kepada keluarga, terutama keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting,” katanya.
Sri menambahkan, keberadaan TPK di lapangan menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Dengan kolaborasi tersebut, berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting dapat lebih awal dikenali dan ditindaklanjuti.
Melalui penguatan kerja sama lintas sektor tersebut, DPPKB Kukar terus mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Upaya pencegahan pun diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan stunting, tetapi juga dilakukan sejak keluarga teridentifikasi memiliki faktor risiko. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *