Dari Sorgum, Kukar Perluas Pilihan Pangan Lokal

Kaltimreport.com – Upaya memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi beras. Pemerintah daerah mulai mendorong masyarakat mengenal sumber karbohidrat alternatif melalui pengembangan sorgum dan jelai sebagai bagian dari diversifikasi pangan lokal.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias mengatakan program “Stop Boros Pangan, Kenyang Tidak Harus Nasi” masih terus berjalan sebagai salah satu upaya membangun kemandirian pangan di daerah.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap beras perlu diimbangi dengan pemanfaatan komoditas pangan lain yang dapat tumbuh dan dikembangkan sesuai potensi wilayah.

“Kalau kita ingin mandiri pangan, kita tidak boleh hanya bergantung pada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman pangan dengan memberdayakan komoditas lokal yang kita miliki,” ujarnya.

Pengembangan tersebut direncanakan berlangsung di dua Kawasan Pertanian Terpadu (KPT), yakni di Desa Sumber Sari dan Karang Tunggal. Di kawasan ini, pengembangan tidak berhenti pada penanaman, tetapi akan mencakup rangkaian kegiatan dari budidaya, panen, pengemasan hingga pemasaran.

Sorgum dipilih karena dinilai memiliki potensi untuk memperkaya pilihan pangan masyarakat. Jelai telah dikenal sejak lama sebagai salah satu bahan pangan lokal, terutama di kalangan masyarakat Dayak. Sementara itu, sorgum dinilai cocok dibudidayakan di Kukar karena didukung kondisi tanah dan iklim yang sesuai.

Komitmen tersebut juga dimasukkan dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 melalui program pengembangan dan penyediaan pangan lokal berbasis sorgum dan jelai.

Ananias menjelaskan, salah satu tantangan diversifikasi pangan adalah kebiasaan masyarakat yang masih menjadikan nasi sebagai ukuran utama dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Padahal, sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari beras.

Karena itu, sorgum dan jelai diharapkan menjadi alternatif yang lebih mudah diterima masyarakat. Setelah melalui proses penggilingan, biji kedua komoditas tersebut memiliki bentuk yang menyerupai beras sehingga dapat diolah menjadi makanan pengganti nasi.

Sorgum putih, misalnya, dapat direndam semalaman sebelum dimasak menggunakan magic com. Proses pengolahan yang relatif sederhana ini menjadi salah satu keunggulan untuk memperkenalkan sorgum sebagai pilihan pangan di tingkat rumah tangga.

Selain cara pengolahannya yang praktis, sorgum juga mengandung serat dan secara alami tidak mengandung gluten. Kandungan tersebut menjadikannya salah satu pilihan bahan pangan yang dapat dipertimbangkan dalam pola makan beragam dan seimbang.

Dari sisi budidaya, sorgum memiliki kemampuan beradaptasi pada kondisi lahan tertentu dan tidak selalu membutuhkan sistem persawahan sebagaimana padi. Dengan pemilihan lahan yang tepat serta perawatan yang sesuai, tanaman ini berpotensi dikembangkan di berbagai area yang memenuhi kebutuhan tumbuhnya.

“Sorgum juga memiliki peluang menghasilkan panen berulang. Dalam kondisi budidaya yang mendukung, tanaman ini dapat dipanen hingga tiga kali dari satu kali penanaman. Setelah panen pertama, tanaman dapat dipelihara kembali untuk mendorong pertumbuhan tunas berikutnya,” ungkapnya.

Tidak hanya bijinya yang dapat dimanfaatkan, batang sorgum juga berpotensi menghasilkan cairan manis yang dapat diolah menjadi bahan pemanis alami. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan produk turunan sekaligus menambah nilai guna tanaman bagi masyarakat.

Ke depan, pengembangan sorgum dan jelai direncanakan diperluas melalui kerja sama dengan kelompok wanita tani (KWT) di Kukar. Program tersebut ditargetkan menjangkau 20 kawasan sehingga pemanfaatan pangan lokal dapat berkembang lebih luas.

Melalui langkah ini, Disketapang Kukar mendorong diversifikasi pangan bukan sekadar sebagai ajakan mengurangi ketergantungan terhadap beras, melainkan juga sebagai upaya membuka peluang bagi komoditas lokal untuk tumbuh menjadi sumber pangan alternatif yang bernilai ekonomi.

“Dengan semakin beragamnya pilihan pangan, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan daerah,” tutupnya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *