Miliki 65 Bank Sampah Aktif, Kukar Perluas Gerakan Pilah dan Jual Sampah

Kaltimreport.com – Sebanyak sekitar 65 bank sampah aktif tersebar di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Keberadaan kelompok pengelola sampah ini menjadi salah satu modal daerah untuk memperkuat kebiasaan memilah sampah sekaligus memanfaatkan material yang masih memiliki nilai jual.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengatakan bank sampah yang tersebar di 20 kecamatan tersebut terus didorong agar semakin aktif dalam mengajak masyarakat mengelola sampah dari rumah.

Menurutnya, bank sampah menawarkan pendekatan yang lebih produktif dibandingkan kebiasaan membuang seluruh sampah ke tempat penampungan. Masyarakat dapat memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, mengumpulkan material yang masih bernilai, kemudian menjualnya melalui bank sampah.

“Bank sampah lebih efektif daripada kebiasaan kita selama ini yang hanya terpaku pada penanganan sampah dengan pola kumpul, angkut, dan buang. Itu harus kita ubah menjadi pilah, olah, dan jual,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026).

Tri menjelaskan, sampah yang telah dipilah tidak seluruhnya harus berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Sebagian material masih dapat dimanfaatkan atau dijual sehingga jumlah sampah yang dibuang bisa ditekan.

Pola tersebut dinilai penting untuk mengurangi beban TPA yang berpotensi mengalami kelebihan kapasitas apabila terus menerima sampah tanpa pengurangan dari sumbernya.

“Pada dasarnya, sampah itu masih bernilai ekonomis, bernilai jual, dan bisa dimanfaatkan. Karena itu, kita perlu mulai mengelola sampahnya, bukan hanya memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan bank sampah relatif dapat dimulai dengan memanfaatkan sampah terpilah yang dikumpulkan masyarakat. Warga tidak harus membeli material untuk dijual kembali karena bahan yang dikelola berasal dari sampah yang mereka pilah sendiri.

Kondisi ini membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh nilai ekonomi dari sampah sekaligus berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan.

Selain mengoptimalkan bank sampah yang sudah berjalan, DLHK Kukar juga mendorong keterlibatan pemerintah di tingkat kecamatan, kelurahan, dan RT. Dukungan tersebut diharapkan mampu memperluas kebiasaan memilah sampah serta menghubungkan kegiatan masyarakat dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih terorganisasi.

Tri menilai, penanganan sampah perlu dimulai dari hulu agar persoalan di hilir tidak semakin berat. Jika seluruh sampah hanya dikumpulkan dan dibawa ke TPA, beban pengelolaan akan terus meningkat.

“Penguatan bank sampah dan pembiasaan memilah sampah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui optimalisasi sekitar 65 bank sampah aktif dan partisipasi masyarakat di 20 kecamatan, Kukar memiliki peluang memperluas pemanfaatan sampah bernilai jual. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa sampah yang dikelola dengan benar dapat memberikan manfaat ekonomi. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed