Kaltimreport.com – Membangun perpustakaan sekolah tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan ruang baca. Lebih dari itu, perpustakaan perlu menjadi ruang yang membuat siswa tertarik datang, betah membaca, dan terdorong untuk mengenal lebih banyak pengetahuan.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), M. Ridha Darmawan, saat memberikan sambutan dalam kegiatan pembinaan teknis bagi pengelola perpustakaan sekolah.
Ridha menekankan pentingnya menghadirkan perpustakaan yang dekat dengan keseharian siswa. Menurutnya, keberhasilan perpustakaan tidak hanya dilihat dari koleksi buku yang tersedia, tetapi juga dari bagaimana anak-anak menjadikannya sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar.
“Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi menjadi tempat yang dikunjungi dan disenangi anak-anak,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
Ia berharap, pembinaan teknis tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Para peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan perpustakaan di sekolah masing-masing.
Ridha juga mengapresiasi semangat para peserta yang tetap mengikuti kegiatan meski harus mengeluarkan biaya secara mandiri. Berdasarkan laporan yang diterimanya, sekitar 120 peserta mengikuti kegiatan tersebut tanpa dukungan pembiayaan dari penyelenggara.
Baginya, keikutsertaan tersebut menunjukkan adanya kesungguhan dari para pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan literasi di lingkungan sekolah.
“Kalau bukan karena tekad yang kuat, mungkin bisa disebut nekat. Namun, saya melihat ini sebagai bentuk kesungguhan Bapak dan Ibu untuk memajukan perpustakaan di sekolah masing-masing,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi antara pengelola perpustakaan sekolah dan Diarpus Kukar. Pertukaran pengalaman dan informasi dinilai dapat membantu pengelola menemukan solusi atas berbagai keterbatasan yang dihadapi.
Menurut Ridha, upaya membangun perpustakaan yang baik tidak harus selalu dimulai dengan fasilitas mewah. Sekolah dapat belajar dari contoh yang telah berkembang di lingkungan sekitar, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Salah satu yang disorotnya ialah perpustakaan SD 007 Tenggarong. Berdasarkan kunjungannya, perpustakaan tersebut dinilai cukup baik dan berpotensi menjadi contoh bagi sekolah dasar lainnya di Tenggarong.
“Kalau SD 007 bisa, saya yakin Bapak dan Ibu juga bisa,” katanya.
Ridha menilai pengalaman sekolah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengelola perpustakaan lainnya. Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, sekolah tetap memiliki peluang untuk menghadirkan layanan perpustakaan yang berkualitas.
Ia berharap, semangat para peserta dalam mengikuti pembinaan teknis dapat berlanjut menjadi langkah nyata di sekolah masing-masing. Dengan pengelolaan yang terus diperbaiki dan komunikasi yang terjaga, perpustakaan sekolah di Kukar diharapkan semakin berkembang serta mampu menumbuhkan minat baca sejak dini. (ADV)













